Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2025

Monolog Sederhana Perempuan dan Belati

 πŸŽ­ Judul: Perempuan dan Belati πŸ“ Tokoh : Seorang perempuan dewasa, duduk di kursi kayu tua. Di tangannya tergenggam sebilah belati kecil yang berkarat. Cahaya lampu hanya menyinari sebagian wajahnya. πŸ—£️ Monolog: > (Menatap belati di tangannya, suaranya pelan namun tajam) PEREMPUAN Belati ini... bukan sekadar logam. Ia adalah saksi. Saksi dari malam-malam yang tak pernah selesai, dari jerit yang tak pernah terdengar. > (Mengusap gagang belati dengan jari gemetar) Aku menyimpannya bukan untuk membalas. Tapi untuk mengingat. Bahwa tubuhku pernah dijajah, bahwa suaraku pernah dibungkam, bahwa aku pernah menjadi bayangan di rumahku sendiri. > (Bangkit perlahan, menatap ke arah penonton) Mereka bilang aku kuat. Tapi mereka tak tahu, kuat itu bukan tanpa luka. Kuat itu berdiri meski lutut gemetar, tersenyum meski dada retak. > (Mengangkat belati ke arah cahaya) Aku tak ingin membunuh siapa pun. Aku hanya ingin hidup— dengan utuh. Tanpa tak...

Monolog Sederhana Sebab Pahlawan Namaku

 πŸŽ­ Judul: Sebab Pahlawan Namaku πŸ“ Tokoh : Seorang perempuan paruh baya, mengenakan kebaya sederhana. Ia berdiri di tengah panggung dengan latar rumah tua dan foto-foto hitam putih di dinding. πŸ—£️ Monolog: > (Mengambil sapu tangan dari saku, menatap foto di dinding) PEREMPUAN Mereka bilang, pahlawan itu yang angkat senjata. Yang gugur di medan perang, yang namanya diukir di batu peringatan. Tapi aku? Namaku tak pernah disebut dalam upacara. Tak ada bendera yang dikibarkan untukku. Tapi setiap pagi, aku bangun lebih awal dari matahari, menanak harapan dalam periuk yang retak. > (Mengusap debu di bingkai foto) Aku adalah ibu, yang menjahit seragam dari kain bekas, yang menyembunyikan lapar di balik senyum. Aku adalah guru, yang mengajar dengan papan tulis patah dan kapur yang tinggal separuh. > (Suara mulai menguat, penuh keyakinan) Aku adalah pahlawan— bukan karena aku ingin disebut begitu, tapi karena aku tak pernah berhenti meski dunia ta...

Monolog Sederhana Masih Merdekakah Kau Indonesia

 πŸŽ­ Judul: Masih Merdekakah Kau Indonesia πŸ“ Tokoh : Seorang perempuan muda, berdiri di depan cermin besar yang buram. Ia mengenakan pakaian merah putih yang mulai pudar warnanya. πŸ—£️ Monolog: > (Menatap cermin, mengusap debu di permukaannya) PEREMPUAN Katanya... kita sudah merdeka. Tujuh belas Agustus, tiap tahun kita kibarkan bendera, teriakkan lagu, dan menari di atas aspal yang retak. Tapi lihatlah... cermin ini tak lagi jernih. Wajah Indonesia— berdebu oleh janji yang tak ditepati, oleh layar kaca yang menyiarkan kebohongan lebih cepat dari doa ibu-ibu di subuh hari. > (Menunduk, memegang ujung bendera di dadanya) Aku bertanya, masih merdekakah kau, Indonesia? Jika anak-anakmu takut berkata jujur, jika keadilan hanya milik yang bersuara lantang dan berduit tebal? > (Mengangkat kepala, suara mulai tegas) Aku ingin merdeka— bukan hanya dari penjajah bersenjata, tapi dari penjajah dalam pikiran, dalam layar, dalam hati yang membatu. ...

Monolog Sederhana Torsa Ni Namora Pande Bosi

 πŸŽ­ Judul: Torsa Ni Namora Pande Bosi πŸ“ Tokoh : Seorang lelaki tua, berpakaian adat Batak, duduk di depan tungku pandai besi yang telah lama padam. Di tangannya, sepotong besi tua berkarat. πŸ—£️ Monolog: > (Menatap besi di tangannya, perlahan mengusapnya) LELAKI TUA Dulu... aku adalah suara dari besi. Gondang menari di langit, ogung menggema di dada. Aku, Namora Pande Bosi— yang menempa bukan hanya logam, tapi sejarah. > (Bangkit perlahan, menatap ke kejauhan) Di antara padi-padi yang menunduk, aku pernah melamar si jelita dari kubu, yang melahirkan langkitang, yang melahirkan baitang, yang melahirkan... aku. > (Mengangkat besi ke arah cahaya) Tapi kini, pustaha hanya tinggal debu, surat tulak-tulak dilupakan, dan aku— kehilangan makam sendiri. > (Suara lirih, hampir seperti doa) Oi, sahala na mar tondi... dengarlah jerit gondang yang tak lagi ditabuh. Aku masih di sini, menunggu api menyala kembali di dada anak cucuku. > (Diam se...

Monolog Sederhana Seratus Untai Biji Tasbih

 πŸŽ­ Judul: Seratus Untai Biji Tasbih πŸ“ Tokoh tunggal : Seorang perempuan dewasa, berpakaian sederhana, duduk di sudut ruangan dengan cahaya temaram. Di tangannya tergenggam tasbih kayu. πŸ—£️ Monolog: > (Menatap tasbih di tangannya, lalu memejamkan mata) PEREMPUAN Kadang, suaraku hanya didengar oleh dinding. Kadang, doaku hanya terasa oleh denyut di nadi. Tapi malam ini… Seratus butir ini lebih nyaring dari dentang lonceng— lebih tajam dari hujan yang menampar jendela. (Satu per satu jari memutar biji tasbih) Aku bukan nabi, bukan pula pujangga. Hanya perempuan biasa— yang menyulam harap di sela-sela takdir. Setiap biji tasbih ini… menyimpan serpihan air mata, jejak letih, dan hembusan sabar yang dipinjam dari langit. (Memandang ke luar jendela dengan wajah teduh) Aku tak meminta dunia tunduk. Cukup hatiku—tenang. Cukup Tuhanku—mendengar. (Ada senyum kecil, ringan namun penuh arti) Lalu aku ulangi lagi. Satu. Dua. Tiga. Seratus kali dalam sepi… ...

Raudah Jambak is a respected and influential figure in Indonesia’s literary landscape

Gambar
  Raudah Jambak is a respected and influential figure in Indonesia’s literary landscape, especially within the Medan and North Sumatran literary scenes. While he may not be a household name across the entire country, his contributions are deeply valued in literary and academic circles. Here’s a snapshot of her recognition: 🌟 Regional and National Presence He have participated in numerous literary festivals and workshops across Indonesia and Southeast Asia, such as PEKSIMINAS in Jakarta, MASTERA in Bogor, and events in Banda Aceh and Lampung. His poetry has been featured in anthologies and literary journals in both Indonesia and Malaysia. πŸ“š Published Works Raudah has contributed to several anthologies, including Muara Tiga , Kecamuk , Meditasi , and Seratus Untai Biji Tasbih —many of which explore religious, cultural, and philosophical themes . 🎭 Beyond the Page He’s also active in theater and performance , directing monologues and participating in alternative theater festival...