Monolog Sederhana Seratus Untai Biji Tasbih

 🎭 Judul: Seratus Untai Biji Tasbih

📍 Tokoh tunggal: Seorang perempuan dewasa, berpakaian sederhana, duduk di sudut ruangan dengan cahaya temaram. Di tangannya tergenggam tasbih kayu.

🗣️ Monolog:

> (Menatap tasbih di tangannya, lalu memejamkan mata)

PEREMPUAN Kadang, suaraku hanya didengar oleh dinding. Kadang, doaku hanya terasa oleh denyut di nadi. Tapi malam ini… Seratus butir ini lebih nyaring dari dentang lonceng— lebih tajam dari hujan yang menampar jendela.

(Satu per satu jari memutar biji tasbih)

Aku bukan nabi, bukan pula pujangga. Hanya perempuan biasa— yang menyulam harap di sela-sela takdir. Setiap biji tasbih ini… menyimpan serpihan air mata, jejak letih, dan hembusan sabar yang dipinjam dari langit.

(Memandang ke luar jendela dengan wajah teduh)

Aku tak meminta dunia tunduk. Cukup hatiku—tenang. Cukup Tuhanku—mendengar.

(Ada senyum kecil, ringan namun penuh arti)

Lalu aku ulangi lagi. Satu. Dua. Tiga. Seratus kali dalam sepi… hingga suara dalam dadaku menyatu dengan semesta.

> (Lampu meredup perlahan)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Perkembangan Teater di Indonesia

Mengenal Tokoh Seni Teater Indonesia

Raudah Jambak, he pursued his education in literature and philosophy, which laid the foundation for her future career as a writer and teacher.