Monolog Sederhana Torsa Ni Namora Pande Bosi

 🎭 Judul: Torsa Ni Namora Pande Bosi

📍 Tokoh: Seorang lelaki tua, berpakaian adat Batak, duduk di depan tungku pandai besi yang telah lama padam. Di tangannya, sepotong besi tua berkarat.

🗣️ Monolog:

> (Menatap besi di tangannya, perlahan mengusapnya)

LELAKI TUA Dulu... aku adalah suara dari besi. Gondang menari di langit, ogung menggema di dada. Aku, Namora Pande Bosi— yang menempa bukan hanya logam, tapi sejarah.

> (Bangkit perlahan, menatap ke kejauhan)

Di antara padi-padi yang menunduk, aku pernah melamar si jelita dari kubu, yang melahirkan langkitang, yang melahirkan baitang, yang melahirkan... aku.

> (Mengangkat besi ke arah cahaya)

Tapi kini, pustaha hanya tinggal debu, surat tulak-tulak dilupakan, dan aku— kehilangan makam sendiri.

> (Suara lirih, hampir seperti doa)

Oi, sahala na mar tondi... dengarlah jerit gondang yang tak lagi ditabuh. Aku masih di sini, menunggu api menyala kembali di dada anak cucuku.

> (Diam sejenak, lalu duduk kembali)

Besi ini belum mati. Ia hanya menunggu tangan yang mengerti bahwa warisan bukan hanya nama, tapi nyala yang harus dijaga.

> (Lampu meredup, hanya cahaya tungku yang tersisa)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Perkembangan Teater di Indonesia

Mengenal Tokoh Seni Teater Indonesia

Raudah Jambak, he pursued his education in literature and philosophy, which laid the foundation for her future career as a writer and teacher.