Raudah Jambak dan Warisan yang Hampir Kita Lupa
Naskah Drama Puitis – Balada Epik Raudah Jambak Babak I – Pembukaan Panggung: Lampu redup. Latar belakang berupa pasar tradisional Medan, dengan suara riuh samar. Di tengah panggung, seorang anak perempuan duduk, memegang buku lusuh. Adegan 1: Suara Narator (lirih, puitis): “Di tanah Medan, lahirlah seorang anak lelaki. Namanya Raudah Jambak. Dari riuh pasar dan bisik doa, ia menyerap denyut budaya yang kelak menjelma kata.” Dialog imajiner: Anak Raudah: “Aku ingin bicara dengan kata, bukan sekadar bermain dengan suara. Kata itu seperti doa, dan aku ingin hidup di dalamnya.” Babak II – Konflik Panggung: Lampu terang. Latar berubah menjadi panggung teater kampus. Kursi-kursi kosong, hanya ada satu spotlight menyinari Raudah muda yang berdiri dengan naskah di tangan. Adegan 2: Suara Narator: “Namun jalan seni bukanlah jalan yang mulus. Ada keraguan, ada pertanyaan, ada benturan dengan zaman yang sering menyingkirkan suara perempuan. Di panggung, ia harus membuktik...